Panduan Membaca Label Nutri-Level pada Minuman untuk Memilih Kandungan Gula Lebih Bijak

Memilih minuman kini tidak cukup hanya mempertimbangkan rasa, harga, atau merek yang menarik perhatian. Kandungan gula, garam, dan lemak juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan. Untuk membantu masyarakat memahami informasi tersebut, Indonesia memperkenalkan sistem pelabelan Nutri-Level yang mengelompokkan produk berdasarkan kandungan gizinya. Label ini memudahkan konsumen membandingkan pilihan minuman tanpa harus memahami seluruh istilah gizi yang rumit. Namun, setiap kategori memiliki arti dan ketentuan yang perlu diketahui. Dengan memahami cara membaca Nutri-Level, masyarakat dapat mengambil keputusan konsumsi yang lebih bijak sekaligus membangun kebiasaan minum yang lebih sehat.
Mengenal Label Nutri-Level dan Tujuan Penerapannya
Pelabelan Nutri-Level menjadi sistem kategorisasi kandungan zat gizi tertentu yang diterapkan agar dapat mendukung masyarakat dalam menentukan minuman yang sesuai kebutuhan secara lebih mudah. Pelabelan ini menggunakan empat kategori penilaian, yaitu A, B, C, dan D. Masing-masing tingkatan menunjukkan perbedaan kadar komponen gizi dalam produk. Secara umum, kategori yang lebih mendekati A menunjukkan jumlah komponen gizi yang dibatasi relatif lebih sedikit. Dengan demikian, konsumen memiliki petunjuk tambahan sebelum memutuskan membeli minuman.
Di Indonesia, Nutri-Level dikembangkan sebagai bagian dari upaya pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak. Penggunaan label tersebut berkaitan dengan perlindungan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. Aturan mengenai pelabelan minuman yang disajikan langsung tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026. Sementara itu, Peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2026 memuat ketentuan pelabelan untuk kategori minuman kemasan tertentu. Sistem pelabelan berdasarkan kategori produknya memiliki ambang kandungan gizi yang perlu dibedakan. Karena itu, konsumen sebaiknya memperhatikan jenis produk yang dibandingkan.
Cara Mengenali Tingkatan Nutri-Level pada Minuman
Tingkatan A menjadi kategori dengan batas kandungan zat gizi yang paling ketat. Pada skema minuman siap saji Kementerian Kesehatan, level A memiliki batas gula maksimal 1 gram per 100 mililiter serta harus memenuhi persyaratan tanpa pemanis tambahan. Tingkatan B mencakup kadar gula lebih dari 1 hingga 5 gram per 100 mililiter. Sementara itu, level C memiliki rentang gula di atas 5 sampai 10 gram per 100 mililiter. Adapun level D, kandungan gulanya lebih tinggi dari 10 gram dalam 100 mililiter.
Warna pada label memberikan petunjuk yang cepat dikenali. Dalam tampilan pelabelan, kategori A menggunakan penanda hijau tua, kategori B ditampilkan dengan warna hijau muda, kategori C ditandai dengan kuning, sedangkan kategori D ditunjukkan melalui warna merah. Meskipun demikian, tingkatan produk tidak semata-mata ditentukan kadar gula. Kandungan garam dan lemak juga berperan dalam menentukan klasifikasi. Sebagai informasi tambahan, batas gula Nutri-Level pada minuman kemasan menurut ketentuan BPOM berbeda dari skema minuman siap saji, sehingga jenis minuman harus diperhatikan sebelum membandingkan.
Cara Menghitung Kandungan Gula dalam Satu Porsi Minuman
Informasi yang sering terlewatkan ketika membaca Nutri-Level adalah perbedaan antara kandungan gula per 100 mililiter dan jumlah gula yang benar-benar diminum. Untuk menggambarkan perbedaannya, sebuah minuman dengan jumlah gula sebanyak 8 gram setiap 100 mililiter akan memberikan 24 gram gula jika diminum sebanyak 300 mililiter. Perhitungan ini dilakukan dengan menghitung tiga kali kandungan gula per 100 mililiter. Dengan kata lain, ukuran minuman berperan besar dalam menentukan asupan gula. Sajian dalam kemasan yang lebih besar dapat menyumbangkan gula lebih banyak meskipun angka per 100 mililiternya tampak sedang.
Supaya konsumen tidak salah memahami informasi, periksa volume minuman yang akan dikonsumsi. Jika produk memiliki lebih dari satu sajian, total asupan harus dihitung berdasarkan banyaknya porsi. Misalnya dalam contoh lain, minuman yang mengandung 6 gram gula per 100 mililiter menghasilkan asupan 30 gram gula dari satu sajian berukuran 500 mililiter. Informasi ini memberikan dasar untuk membandingkan porsi. Melalui cara membaca seperti ini, konsumen tidak hanya bergantung pada warna label.
Hubungan Minuman Manis dengan Risiko Gangguan Kesehatan
Asupan gula yang terus-menerus melebihi kebutuhan berpotensi memberikan dampak negatif bagi tubuh. Produk minuman dengan tambahan gula sering menjadi sumber tambahan kalori tanpa selalu menghasilkan rasa kenyang yang bertahan lama. Ketika porsinya tidak dikendalikan, jumlah kalori yang masuk dapat melebihi kebutuhan tubuh. Dalam jangka panjang, konsumsi minuman berpemanis yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Walaupun begitu, kondisi tubuh tidak hanya ditentukan konsumsi gula, termasuk riwayat kesehatan dan kebiasaan hidup.
Sebagai bagian dari pencegahan penyakit, pengaturan asupan makanan dan minuman manis dapat membantu menjaga keseimbangan konsumsi. Pedoman kesehatan di Indonesia menggunakan batas sekitar 50 gram gula dalam sehari sebagai acuan konsumsi yang perlu diperhatikan. Jumlah tersebut sering digambarkan sebagai sekitar empat sendok makan gula. Sebagai catatan penting, sumber konsumsi gula dapat berasal dari berbagai produk, seperti camilan, hidangan manis, dan bahan tambahan makanan. Dengan demikian, pengendalian konsumsi perlu mempertimbangkan seluruh sumber gula.
Tips Memilih Minuman Lebih Sehat Menggunakan Nutri-Level
Cara awal memanfaatkan informasi Nutri-Level adalah menilai kandungan gizi dari produk yang memiliki karakteristik sejenis. Apabila konsumen menemukan sejumlah alternatif, prioritaskan pilihan dengan kandungan gula lebih rendah jika sesuai dengan kebutuhan gizi pribadi. Perhatikan pula, banyaknya porsi yang akan diminum. Produk yang memiliki kategori lebih rendah kandungan zat gizinya tetap perlu dinilai berdasarkan kebutuhan individu. Dengan alasan tersebut, memeriksa keterangan kandungan produk tetap menjadi kebiasaan yang bermanfaat.
Jika ingin mengendalikan asupan gula, masyarakat dapat memilih air putih sebagai minuman utama. Ketika membeli kopi atau teh, pilihan tanpa gula tambahan bisa menjadi alternatif sesuai ketersediaan pilihan menu. Meskipun demikian, pengurangan gula saat pemesanan tidak selalu menjamin kategori Nutri-Level berubah. Bahan tambahan berupa saus manis, boba, atau krimer juga dapat menambah jumlah gula yang dikonsumsi. Dengan menerapkan langkah ini secara konsisten, pilihan minuman dapat menjadi lebih terkendali.
Manfaat Membaca Label Nutri-Level untuk Kesehatan
Mengenali sistem pengelompokan Nutri-Level merupakan cara sederhana untuk meningkatkan kesadaran terhadap asupan gula. Melalui kategori A hingga D, konsumen memperoleh informasi tambahan sebelum membeli. Walaupun begitu, penilaian minuman sebaiknya tidak hanya mengandalkan simbol visual. Memperhatikan kadar gula per 100 mililiter, mengendalikan frekuensi konsumsi, dan mengurangi minuman berpemanis dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup yang lebih seimbang. Apakah Anda sudah memperhatikan Nutri-Level saat membeli minuman? Silakan bagikan pendapat dan pengalaman Anda agar diskusi mengenai kebiasaan menjaga KESEHATAN menjadi lebih bermanfaat.








